Aurora merupakan pancaran cahaya pada langit daerah lintang tinggi,
sebagai akibat atas pembelokan partikel angin matahari oleh magnetosfer
ke arah kutub, serta adanya reaksi dengan molekul-molekul atmosfer.
Matahari, atau Bintang merah yang menjadi pusat orbit planet-planet
wilayah tatasurya ternyata hanyalah satu diantara milyaran bintang
lainnya di galaksi bimasakti. Pada inti pusatnya, ia memiliki suhu 14
juta kelvin dengan tekanan 100 milyar kali lipat tekanan atmosfer di
bumi. Cahaya yang dipancarkan matahari berasal dari reaksi fusi
termonuklir yang terjadi pada inti bintang. Secara konveksi, energi
hasil reaksi fusi tersebut dialirkan ke permukaan. Dari aliran konveksi
tersebut, tercipta medan magnet yang sangat kuat di permukaan matahari.
Daerah-daerah medan magnet tersebut relatif gelap (lebih dingin) dari
pada sekitarnya, sehingga ia dinamakan bintik matahari atau sunspot.
Seperti Apa Penampakan Aurora?
Aurora bisa berwarna hijau, merah, atau
biru. Seringkali mereka akan menjadi kombinasi warna, dengan
masing-masing warna terlihat pada ketinggian yang berbeda di atmosfer.
- Biru dan ungu: kurang dari 120 kilometer (72 mil)
- Hijau: 120-180 km (72-108 mil)
- Merah: lebih dari 180 km (108 mil)
Setelah surya maksimum sangat aktif
dalam siklus matahari, warna merah mungkin muncul pada ketinggian antara
90 dan 100 km (54-60 mil).
Ion oksigen memancarkan cahaya merah dan
kuning. Ion Nitrogen memancarkan merah, biru, dan ungu. Kita melihat
hijau dalam wilayah atmosfer di mana terdapat oksigen dan nitrogen. Kita
melihat warna yang berbeda pada ketinggian yang berbeda karena
konsentrasi relatif dari oksigen ke nitrogen di atmosfer berubah sesuai
dengan ketinggian.
Aurora dapat bervariasi pada tingkat
kecerahan. Orang yang secara teratur mengamati aurora dan melaporkannya,
mereka umumnya menggunakan skala penilaian dari nol (samar) sampai
empat (sangat terang). Mereka akan mencatat data dari aurora berupa
waktu, tanggal, garis lintang, dan warna serta meraka membuat sketsa
dari aurora terhadap langit. Laporan tersebut membantu para astronom,
astrofisikawan, dan ilmuwan Bumi dalam memonitor aktivitas aurora.
Aurora dapat membantu kita memahami medan magnet bumi dan bagaimana
perubahannya dari waktu ke waktu.
Karena medan magnet bumi berupa tiga
dimensi, aurora tampak seperti lingkaran oval di sekitar kutub. Hal ini
telah diamati dari satelit, stasiun luar angkasa internasional, dan
pesawat ruang angkasa. Tapi bukan merupakan lingkaran sempurna karena medan magnet bumi terdistorsi oleh angin surya.
Proses Terjadinya Aurora
merupakan indikator keterkaitan
antara bumi dan matahari. Frekuensi aurora berkorelasi dengan frekuensi
aktivitas surya dan aktivitas siklus 11-tahunan matahari.
Seiring dengan proses peleburan terjadi
di dalam matahari, hal itu mengeluarkan partikel berenergi tinggi (ion,
elektron, proton, neutrino) dan radiasi pada angin surya. Ketika
aktivitas matahari tinggi, Anda juga akan melihat letusan besar yang
disebut jilatan api matahari (solar flares) dan coronal mass ejections.
Partikel-partikel berenergi tinggi dan radiasi dilepaskan ke ruang
angkasa dan menyebar di seluruh tata surya kita. Ketika mereka
menghantam bumi, mereka menemui medan magnet.
Kutub medan magnet bumi terletak dekat
(tapi tidak tepat) dengan kutub geografis (di mana planet berputar pada
porosnya). Para ilmuwan percaya bahwa inti luar besi cair bumi berputar
dan membuat medan magnet. Medan ini terdistorsi oleh angin surya,
semakin terkompresi pada bagian yang menghadap matahari (bow shock) dan
ditarik keluar pada sisi yang berlawanan (magnetotail). Angin surya
menciptakan sebuah lubang di medan magnet pada katup kutub. Katup kutub
dapat ditemukan pada sisi surya dari magnetosfer (daerah sekitar Bumi
yang dipengaruhi oleh medan magnet). Mari kita lihat bagaimana hal ini
mendorong proses terjadinya aurora.
- Sebagaimana partikel bermuatan dari angin surya dan flare terkena medan magnet bumi, mereka akan berjalan di sepanjang garis-garis medan.
- Beberapa partikel bisa dibelokkan di sekitar Bumi, sementara yang lain berinteraksi dengan garis-garis medan magnet, sehingga arus partikel bermuatan dalam medan magnet dipancarkan ke kedua kutub – inilah mengapa ada aurora simultan di kedua belahan bumi. (Arus ini disebut arus Birkeland setelah Kristian Birkeland, fisikawan Norwegia yang menemukan hal tersebut.)
- Ketika muatan listrik berjalan melintang di medan magnet itu menghasilkan arus listrik. Sebagaimana arus ini turun ke atmosfer di sepanjang garis-garis medan, mereka mengambil lebih banyak energi.
- Ketika mereka mencapai wilayah ionosfer dari bagian atas atmosfer bumi, mereka bertumbukan dengan ion oksigen dan nitrogen.
- Mempengaruhi ion oksigen dan nitrogen serta mentransfer energi mereka untuk ion tersebut.
- Penyerapan energi oleh oksigen dan nitrogen ion menyebabkan elektron di dalamnya menjadi “exited” dan bergerak dari energi rendah ke orbital yang berenergi tinggi.
- Ketika ion “exited” tenang, elektron dalam atom oksigen dan nitrogen kembali ke orbital aslinya. Dalam prosesnya, mereka kembali memancarkan energi dalam bentuk cahaya. Cahaya ini yang membuat aurora, dan perbedaan warna berasal dari cahaya yang terpancar dari ion yang berbeda.
Catatan: Partikel yang berinteraksi
dengan ion oksigen dan nitrogen di atmosfer bukan berasal dari matahari,
melainkan sudah terperangkap oleh medan magnet bumi. Angin surya dan
flare mengacaukan medan magnet dan mengatur partikel-partikel ini dalam
magnetosfer bergerak.
Sumber : http://www.ekorahayu.com



0 komentar:
Posting Komentar